LABORATORY SAFETY



Laboratory Safety
Laboratorium Kesehatan merupakan suatu institusi dengan jumlah petugas kesehatan dan non kesehatan yang cukup besar. Kegiatan laboratorium kesehatan mempunyai risiko berasal dari faktor fisik, kimia, ergonomi dan psikososial. Variasi, ukuran, tipe dan kelengkapan laboratorium menentukan kesehatan dan keselamatan kerja.
Seiring dengan kemajuan IPTEK, khususnya kemajuan teknologi laboratorium, maka risiko yang dihadapi petugas laboratorium semakin meningkat. Petugas laboratorium merupakan orang pertama yang terpajan terhadap bahan kimia yang merupakan bahan toksisk korosif, mudah meledak dan terbakar serta bahan biologi.
Selain itu dalam pekerjaannya menggunakan alat-alat yang mudah pecah, berionisasi dan radiasi serta alat-alat elektronik dengan voltase yang mematikan, dan melakukan percobaan dengan penyakit yang dimasukkan ke jaringan hewan percobaan. Oleh karena itu, penerapan budaya “aman dan sehat dalam bekerja” hendaknya dilaksanakan pada semua Institusi di Sektor Kesehatan termasuk Laboratorium Kesehatan.
Laboratorium Kesehatan harus didesain dengan sistem ventilasi yang memadai dan sirkulasi udara yang adekuat, harus memiliki pemadam api yang tepat untuk bahan kimia berbahaya yang digunakan, harus memiliki bendungan-bedungan talam untuk menahan tumpahan larutan yang mudah terbakar dan melindungi tempat yang aman dari bahaya kebakaran. Selain itu, juga disediakan alat Pertolongan Pertama pada Kecelakaan (P3K).
Di laboratorium sering terjadi kecelakaan. Beberapa contohnya adalah:
·         Terpeleset (biasanya karena lantai licin); akibatnya jika ringan mengakibatkan memar, namun jika berat mengakibatkan fraktur, dislokasi, memar otak, dll. Untuk pencegahan dilakukan dengan cara pemakaian sepatu anti slip, tidak memakai sepatu hak tinggi ataupun tali longgar, pemeliharaan lantai dan tangga.
·         Mengangkat beban; akibatnya cedera pada punggung. Untuk pencegahan dilakukan dengan cara beban yang diangkat jangan terlalu berat, tidak memakai pakaian ketat saat mengangkut beban karena bisa menghambat pergerakan, mengangkat beban menggunakan tungkai bawah sambilberjongkok.
·         Mengambil sample darah/cairan tubuh lainnya; akibatnya tertusuk jarum, tertular virus HIV, Hepatitis B. Untuk pencegahan dilakukan dengan cara menggunakan alat suntik sekali pakai, jangan tutup kembali atau menyentuh jarum suntik yang telah dipakai tapi langsung dibuang ke tempat yang telah disediakan (sebaiknya gunakan destruction clip), bekerja di bawah pencahayaan yang cukup.
·         Risiko terjadi kebakaran (sumber : bahan kimia, kompor) bahan desinfektan yang mungkin mudah menyala (flammable) dan beracun; akibatnya timbulnya kebakaran dengan akibat luka bakar dari ringan sampai berat bahkan kematian, timbul keracunan akibat kurang hati-hati. Untuk pencegahan dilakukandengan cara konstruksi bangunan yang tahan api, sistem penyimpanan yang baik terhadap bahan-bahan yang mudah terbakar, pengawasan terhadap kemungkinan timbulnya kebakaran, perlengkapan dan penanggulangan kebakaran, penyimpanan dan penanganan zat kimia yang benar dan aman.
Penyakit Akibat Kerja adalah penyakit yang mempunyai penyebab yang spesifik atau asosiasi yang kuat dengan pekerjaan, pada umumnya terdiri dari satu agen penyebab, harus ada hubungan sebab akibat antara proses penyakit dan hazard di tempat kerja. Faktor Lingkungan kerja sangat berpengaruh dan berperan sebagai penyebab timbulnya Penyakit Akibat Kerja.
Penyakit akibat kerja di laboratorium kesehatan umumnya berkaitan dengan faktor biologis (kuman patogen yang berasal umumnya dari pasien); faktor kimia (pemaparan dalam dosis kecil namun terus menerus seperti  antiseptik pada kulit, zat kimia/solvent yang menyebabkan kerusakan hati; faktor ergonomi (cara duduk salah, cara mengangkat  pasien salah); faktor fisik dalam dosis kecil yang terus menerus (panas pada kulit, tegangan tinggi, radiasi dll.); faktor psikologis (ketegangan di kamar penerimaan pasien, gawat darurat, karantina dll.)
Tindakan pencegahan yang berkaitan dengan penyakit akibat kerja di laboratorium kesehatan dapat dilakukan dengan cara :
·         Faktor biologis; melakukan pekerjaan laboratorium dengan praktek yang benar (Good Laboratory Practice), menggunakan desinfektan yang sesuai dan cara penggunaan yang benar, sterilisasi dan desinfeksi terhadap tempat, peralatan, sisa bahan infeksius dan spesimen secara benar, pengelolaan limbah infeksius dengan benar, dan kebersihan diri dari petugas.
·         Faktor kimia; menggunakan karet isap (rubber bulb) atau alat vakum untuk mencegah tertelannyabahan kimia dan terhirupnya aerosol, menggunakan alat pelindung diri (pelindung mata, sarung tangan, celemek, jas laboratorium) dengan benar, menggunakan alat pelindung pernafasan dengan benar.
·         Faktor ergonomi; dengan melakukan pendekatan ergonomi bersifat konseptual dan kuratif, secara populer kedua pendekatan tersebut dikenal sebagai To fit the Job to the Man and to fit the Man to the Job
·         Faktor fisik; pengendalian cahaya di ruang laboratorium, pengaturan ventilasi dan penyediaan air minum yang cukup memadai, menurunkan getaran dengan bantalan anti vibrasi, pengaturan jadwal kerja yang sesuai, pelindung mata untuk sinar laser, filter untuk mikroskop.
·         Faktor psikososial; mencoba untuk menikmati pekerjaannya, berusaha untuk memanajemen stress akibat pekerjaan.
Untuk menghindari terjadinya kecelakaan saat berada di laboratorium kesehatan, sudah seharusnya kita mengikuti prosedur yang ada sehingga kita sebagai petugas kesehatan tidak terkena dampak penyakit akibat kerja. Lebih baik kita melakukan pencegahan daripada terkena dampaknya, baik itu berupa pencegahan biologis, kimia, ergonomi, fisik maupun psikososial.






Daftar Pustaka
Dr. Osha. 2016. Kebijakan Kesehatan danKeselamatan Laboratorium. Jurnal Kesehatan
Mariati. 1998. Bahan Kimia Berbahaya. Penataran pengelolaan Laboratorium (Laboratorium Manajemen). Fakultas Kedokteran USU Medan.
Sunarto. 2014. Keselamatan dan Kesehatan Kerja di Laboratorium Kimia. Yogyakarta : Universitas Yokyarta.
Simamora, R.H. 2008. Buku Ajar Pendidikan dalam Keperawatan. Jakarta: EGC
Simamora. R.H dan Fathi, A. 2017. Penguatan Pengetahuan Perawat dalam pelaksanaan keselamatan Pasien Melalui Pelatihan Nurshing Hand Over Berbasis Komunikasi SBAR. Seminar Nasional Keperawatan. Bandung: UNPAD

Komentar

Postingan populer dari blog ini

MAKALAH KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA DI RUMAH SAKIT

MANAJEMEN PENANGGULANGAN KEBAKARAN

PENGENDALIAN BAHAN INFEKSIUS